fbpx

Gejala, Penyebab, dan Dampak Obesitas Pada Anak

Share:

obesitas pada anak

Obesitas pada anak adalah kondisi yang kesehatan yang serius dan sebaiknya tidak dianggap remeh. Selain menurunkan rasa percaya diri, anak atau remaja yang mengalami obesitas berisiko mengalami penyakit-penyakit yang serius.

Lalu, seperti apa gejala obesitas pada anak, apa penyebabnya, dan bagaimana mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini sampai tuntas.

 

Beberapa Gejala Obesitas pada Anak

Perlu Anda ketahui bahwa tidak semua anak yang memiliki bobot yang berat itu berarti kelebihan berat badan (overweight) ataupun obesitas.

Ada beberapa gejala yang merupakan kriteria obesitas pada anak yang perlu orang tua perhatikan.

 

1. Ciri-ciri obesitas menurut berat badan, tinggi badan, dan usia anak

Kita tidak bisa mengukur hal itu hanya berdasarkan berat badan saja tetapi juga harus membandingkannya dengan tinggi badan anak. Perbandingan tinggi dan berat badan dikenal juga dengan istilah Indeks Massa Tubuh (IMT).

Cara menghitung IMT yaitu: berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan (dalam meter) dikuadratkan.

Walau begitu, nilai IMT anak berbeda dengan orang dewasa karena komposisi lemak tubuh pada anak berubah seiring usia mereka. Selain itu, jenis kelamin juga berpengaruh.

Jadi bila ingin mengetahui apakah IMT anak termasuk obesitas atau normal sebaiknya diukur pada usia dan jenis kelamin yang sama.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), berikut ini kriteria persentil IMT anak:

  • Berat badan rendah: kurang dari 5 persentil
  • Berat badan yang sehat: 5 persentil sampai kurang dari 85 persentil
  • Berat badan berlebih (overweight): 85 persentil sampai kurang dari 95 persentil
  • Obesitas: 95 persentil atau lebih.

Kriteria ini berlaku untuk anak usia 6 sampai 12 tahun.

Adapun bagi usia 1 sampai 5 tahun, kriteria obesitas mengacu pada kurva pertumbuhan anak yang dirancang oleh Kementerian Kesehatan Indonesia.

Normalnya, berat badan anak balita berdasarkan usia dan jenis kelaminnya adalah sebagai berikut:

  • Usia 1 tahun: anak perempuan 7 – 11,5 kg; anak laki-laki 7,7 – 12 kg
  • Usia 2 tahun: anak perempuan 9 – 14,8 kg; anak laki-laki 9,7 – 15,3 kg
  • Usia 3 tahun: anak perempuan 10,8 – 18,1 kg; anak laki-laki 11,3 – 18,3 kg
  • Usia 4 tahun: anak perempuan 12,3 – 21,5 kg; anak laki-laki 12,7 – 21,2 kg
  • Usia 5 tahun: anak perempuan 13,7 – 24,9 kg; anak laki-laki 14,1 – 24,2 kg

Seorang anak akan disebut mengalami kelebihan berat badan (overweight) bila berat badannya +2 dari kurva pertumbuhan, dan dikatakan obesitas bila berat badannya +3 dari kurva pertumbuhan.

 

2. Ciri-ciri fisik anak yang mengalami obesitas

Selain melalui pengukuran tinggi dan berat badan, gejala obesitas pada anak juga bisa dilihat dari ciri-ciri fisik anak, antara lain sebagai berikut:

  • pipi tembem,
  • dagu rangkap,
  • leher terlihat pendek,
  • perut membuncit dan berlipat-lipat,
  • payudara membesar,
  • paha bagian dalam saling bersentuhan
  • pada anak laki-laki penisnya nampak kecil dan terbenam

Selain ciri-ciri fisik di atas, anak yang obesitas juga seringkali mendengkur (ngorok) saat tidur, susah tidur nyenyak di malam hari, serta sulit berkonsentrasi saat belajar di sekolah.

Bila anak mengalami ciri-ciri fisik seperti yang disebutkan di atas dan memiliki IMT yang termasuk kriteria obesitas, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk diberikan saran penanganan yang tepat.

 

Baca Juga: Apa Pentingnya Melakukan Pemeriksaan DNA?

 

Penyebab dan Faktor Risiko Obesitas pada Anak

Penyebab obesitas pada anak yang paling umum terjadi adalah gaya hidup dan pola makan yang tidak baik. Di antaranya yaitu kurang beraktivitas fisik dan mengonsumsi kalori yang berlebihan.

Di samping itu, ada juga faktor genetik dan hormonal yang turut mempengaruhi kecenderungan anak menjadi obesitas atau kelebihan berat badan.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan faktor-faktor yang berisiko menyebabkan obesitas pada anak berikut ini.

 

1. Pola makan yang tidak sehat

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, obesitas pada anak paling berisiko terjadi karena kebiasaan makan kalori yang berlebihan. 

Kalori yang berlebihan ini dapat diperoleh dari kebiasaan anak mengonsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi gula, jajanan dalam kemasan, minuman kemasan yang tinggi gula, dan makanan yang tidak sehat lainnya.

 

2. Kurang aktivitas fisik

Selain pola makan yang tidak sehat, anak yang malas bergerak juga berisiko mengalami obesitas karena kalori yang dikonsumsi tidak dibakar oleh tubuh sehingga menumpuk.

Misalnya, anak memiliki kebiasaan bermain game selama berjam-jam, menonton TV seharian, atau aktivitas lainnya yang kurang gerakan fisik.

 

3. Kebiasaan dalam keluarga

Lingkungan dan kebiasaan keluarga juga sangat berperan dalam meningkatkan risiko obesitas pada anak. 

Misalnya orang tua terbiasa menyajikan makanan tinggi kalori untuk anak-anaknya dan tidak merutinkan berolahraga bersama anak-anak.

 

4. Masalah psikologis anak

Beberapa anak menjadikan makan atau ngemil sebagai pengalihan saat mengalami masalah emosional seperti stres.

Kebiasaan ini bisa jadi diturunkan oleh orang tua yang juga melakukan hal serupa saat sedang menghadapi masalah.

 

5. Masalah ekonomi keluarga

Kesulitan ekonomi dapat membuat orang tua tidak mampu menyediakan makanan dengan gizi seimbang kepada anak-anaknya.

Akibatnya, menu makanan yang disajikan mayoritas mengandung karbohidrat karena hanya untuk menutupi rasa lapar saja. Sementara menu lainnya seperti protein, sayur, dan buah tidak diberikan secara memadai.

Bila hal ini terjadi terus menerus, konsumsi karbohidrat yang berlebihan akan meningkatkan asupan kalori harian anak sehingga menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas.

 

6. Konsumsi obat-obatan tertentu

Selain dari makanan, jenis obat-obatan tertentu juga dapat memicu obesitas pada anak. Di antaranya seperti prednison, lithium, paroxetin, gabapentin, dan propranolol.

Bila anak mengonsumsi obat-obatan tertentu secara rutin, sebaiknya tanyakan pada dokter apakah obat tersebut berpotensi memicu obesitas dan minta saran apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasinya.

 

Baca Juga: Tujuan Melakukan Tes DNA

 

Dampak Obesitas pada Anak

Obesitas dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan tubuh, emosional, dan perilaku anak. Berikut ini beberapa penyakit yang mengintai apabila anak mengalami obesitas.

  1. Diabetes tipe 2 yang terjadi karena tubuh kesulitan memproses gula yang berlebihan.
  2. Kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi yang terjadi akibat konsumsi makanan yang nutrisinya tidak seimbang.
  3. Berisiko terkena penyakit kardiovaskuler seperti penyakit jantung dan stroke di usia muda karena memiliki faktor risiko diabetes, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi.
  4. Nyeri sendi karena tubuh harus menopang bobot yang berlebihan.
  5. Gangguan pernapasan terutama saat tidur seperti sleep apnea yaitu napas tercekat saat tidur.
  6. Perlemakan hati akibat tumpukan lemak yang berlebihan pada hati.

 

Dampak Obesitas terhadap Sosial dan Psikologis Anak

Selain lebih rentan menderita penyakit-penyakit tertentu, obesitas pada anak juga berdampak pada kondisi psikologis dan kehidupan sosialnya. 

Beberapa dampak psikologis dan sosial yang berisiko terjadi antara lain seperti:

  • Anak jadi kurang percaya diri karena penampilannya yang tidak ideal
  • Anak berisiko menjadi korban bullying oleh teman-temannya

Bila rasa kurang percaya diri dan bullying terjadi terus menerus, anak berisiko mengalami masalah kejiwaan seperti depresi dan anxiety.

 

Penanganan dan Pencegahan Obesitas pada Anak

Upaya penanganan ataupun pencegahan obesitas pada anak bisa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Orang tua menjadi contoh yang baik dalam menerapkan pola hidup yang sehat seperti makan makanan yang bergizi seimbang dan rutin berolahraga.
  2. Selalu sediakan menu makanan yang bergizi seimbang setiap hari untuk anak.
  3. Berikan cemilan yang sehat kepada anak seperti popcorn tanpa margarin, buah-buahan, yogurt rendah lemak, atau sereal dari gandum utuh dengan susu rendah lemak.
  4. Biasakan anak mengonsumsi makanan atau minuman yang sehat dan kurangi konsumsi jajanan dalam kemasan.
  5. Hindari memberikan hadiah berupa makanan yang tidak sehat pada anak seperti permen.
  6. Pastikan anak nyaman saat tidur, terutama di malam hari. Tujuannya agar anak cukup beristirahat serta tidak terbangun dan ngemil saat malam.

Untuk melakukan deteksi secara dini mengenai kemungkinan obesitas pada anak, segera lakukan pemeriksaan dna menggunakan DNAandMe! Terdapat report mengenai kesehatan anak yang dapat memberitahu Anda mengenai beberapa insight, salah satunya adalah diabates.

Segera gunakan DNAandMe sekarang!

 

References: 

  1. Childhood obesity. (2020, December 05). Retrieved November 13, 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/symptoms-causes/syc-20354827
  2. Consequences of obesity. (2022, July 15). Retrieved November 13, 2022, from https://www.cdc.gov/obesity/basics/consequences.html
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2021, December 3). Defining childhood weight status. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved November 13, 2022, from https://www.cdc.gov/obesity/basics/childhood-defining.html 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (2016, March 31). Sekilas tentang Obesitas pada Buah Hati. Retrieved November 13, 2022, from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/sekilas-tentang-obesitas-pada-buah-hati

Share: